Selasa, 30 Juni 2020

Tentang Rindu

I love coffe

Terkadang rasa takut itu terus mengikuti. Menapaki jejak-jejak baru yang akan dimulai, meninggalkan sudah jejak lama yang telah karat dan rapuh. Terus melangkah menelusuri lorong waktu yang tidak berujung. Aku berhenti dalam langkahku, sebentar aku menoleh ke belakang. Ternyata langkah ini sudah sangat jauh. Berapa lama? ternyata hari sudah berganti bulan, dan bulan sudah berganti tahun.

Rindu itu selalu datang tidak tepat. Dia mengusiku saat aku bersama dengan tumpukan deadline kerja. Meski begitu kamu tetap prioritasku, jadi gapapa datanglah sesukamu. Menjadi teman hening dalam kerjaku.  

Haii..ini aku. Kamu memang tidak bisa mendengar sapaanku dari sini. Sekarang aku sedang mampir di bait-bait tulisanmu yang rapih. Mencoba memahami dan merasakan apa yang tengah kamu rasakan.

Heyy..tahukah juga kamu? Aku sedang rindu. Maaf hanya bisa menyampaikan lewat cara ini. Ya sebenarnya aku tahu bahwa kamu tak pernah bisa mendengarnya. Tapi harap kamu juga merindu yang sama. Ahh..aku terlalu pede ya.

Tetapi sebenarnya kita saling tahu bahwa kita saling merindu kan? hanya kita sama-sama saling diam menunggu. Bukankah begitu?

Aku merasakan ketakutan, jika doa-doa tak lagi berterbangan ke langit, aku takut jika kita akan terbiasa seperti ini, lupa dan terlalu nyaman bahwa kita terbiasa bersisihan.

*sudahlah, itu skenario Tuhan. Kita selalu berfikir bahwa semua itu  momen pupus harapan. Padahal  saat itu Tuhan sedang tersenyum atas patahmu. Percayalah Tuhan sudah persiapkan untukmu pelangi yang indah setelah hujan. Kamu akan menemuinya di saat yang tepat.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SAJAK DALAM DOA

Tidak apa-apa kan jika baru saat ini aku mengerti begitu baik rencana-Mu. Dulu banyak pintu yang tertutup, seakan aku merasa ini sungguh ket...