Senin, 29 Juni 2020

Luka dan Senja

Bunga di Senja

Sore itu...,

Masih dengan kerudung dan gamis yang seharian dia pakai, dihempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Gurat-gurat cahaya lampu menyaksikan. Dirinya menatap langit-langit kamar. Sekejap memejamkan mata.

Gumamku..pada perasaan ini tak bisa ku menerangkan bahwa banyak goresan luka yang meradang. Kucoba lagi menghidupkan segala harap yang telah patah. 

Catatatan kecil di bulan Juni

Bunga   : lelah ya, tapi aku suka.

Kumbang : kamu suka saat dirimu lelah?

Bunga : Ya, tentunya seharian ini karena kehadiranmu, aku bisa sejenak tidak merasakan luka itu. Tidak sadar aku bisa tertawa tanpa sedikitpun ingat.

Kumbang : ternyata kamu pandai ya ?

Bunga : pandai apa?

Kumbang : pandai menyimpan luka hha

Bunga :iya kamu memang betul. Karena aku tak seperti dirimu. Kamu bisa terbang bebas sesukamu, hinggap di setiap bunga yang kamu suka dan menghisap manisnya madu

Kumbang : kamu itu menghadirkan keindahan di setiap momen, banyak juga yang menyukaimu

Bunga : kenapa kamu berkata seperti itu?

Kumbang : meski banyak yang mematahkanmu lalu membuangmu di saat layu, kamu adalah tanda cinta dan kasih sayang. Hadirmu juga menyajikan keromantisan hidup. Lukamu jangan menjadi alasan kamu tidak tersenyum.

Bunga : jadi ?

Kumbang : sekarang coba kamu letakan cangkir teh manismu. Sederhana saja, berdirilah kamu dihadapan senja. Lihatlah dia begitu hangat dengan jingganya. Kamu tahu maksudku ?

Bunga : apa?

Kumbang : sungguh indah bukan langit merah itu. aku sama sepertimu. Karena pada senja, kita selalu bisa menitipkan banyak luka. Aku bisa berlama-lama diam menghaturkan setiap harap disertai doa. Walau ku tahu, tetap kepada Tuhanlah tempat kita meminta dan mengadu yang tepat.

 

Senja tidak akan mengecewakan penikmatnya

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SAJAK DALAM DOA

Tidak apa-apa kan jika baru saat ini aku mengerti begitu baik rencana-Mu. Dulu banyak pintu yang tertutup, seakan aku merasa ini sungguh ket...