Aku menulis ini di sore hari, sambil menyeruput kopi yang mulai mendingin. Suasananya tenang, langit tak terlalu terang dan tak sepenuhnya gelap—seperti pikiranku yang perlahan mencari kepastian. Ada banyak hal yang sempat membuat ragu, namun di sela-sela diam itu, aku belajar bahwa keyakinan tidak selalu datang dengan tergesa. Kadang ia hadir bersama jeda, bersama napas yang ditarik pelan, bersama sore yang sederhana.
Meyakinkan diri berarti berani duduk lebih lama dengan perasaan sendiri. Seperti menikmati kopi tanpa terburu-buru, aku mencoba memahami arah yang kupilih. Memilihmu bukan keputusan yang lahir dari emosi sesaat, tapi dari proses menimbang yang panjang, dari doa-doa yang diselipkan tanpa suara. Ada rasa tenang yang muncul, rasa yang tidak meledak-ledak, tapi cukup untuk membuatku bertahan.
Jika suatu hari keraguan kembali menyapa, aku ingin mengingat sore ini—tentang kopi yang kuteguk perlahan dan pikiran yang akhirnya jujur. Bahwa pilihan ini bukan tentang ingin terlihat yakin, melainkan tentang kesiapan menerima segala kemungkinan. Aku hanya sedang meyakinkan diri, dengan cara paling sederhana, bahwa langkah ini layak diperjuangkan.

