Sabtu, 21 Februari 2026

SAJAK DALAM DOA


Tidak apa-apa kan jika baru saat ini aku mengerti begitu baik rencana-Mu. Dulu banyak pintu yang tertutup, seakan aku merasa ini sungguh ketidak adilan. Sekarang saya bersyukur, ada rencana yang tidak berhasil, ada impian yang pupus, dan ada cinta yang dipatahkan. Aku percaya tidak semua kegagalan adalah kehilangan. Ini adalah perlindungan Sang Illahi yang Maha Cinta. Mengingat begitu banyak doa yang terbang bersama ketulusan dan air mata, namun apa yang kudapat lain kekecewaan, air mata yang jatuh deras, bahkan tangan yang kosong. Setiap doa yang kupikir Tuhan tidak menjawabnya, membawaku mendekatkan pada apa yang akan ditakdirkan untukku. 

Tugasku sebatas percaya. Biarkan saya merenung lebih damai dengan cara yang aku suka. Mungkin dengan mengayuh sepeda, duduk di tepi pantai ditemani sejuknya angin, bermain bersama kucing-kucing yang entah tiba-tiba datang mendekatiku. Ketika alam semesta ini tidak terburu-buru, maka juga seharusnya aku begitu. 

Terkadang harus merasakan memperjuangkan cinta yang salah dulu, merasakan sakit dulu, memilih jalan keliru dulu, bahkan sampai pada kehilangan. Sungguh aku hanya ingin selangkah lebih baik setiap hari, dan aku masih punya waktu untuk itu. Tidak begitu peduli dengan berisiknya penilaian khalayak kepadaku, bahkan saat sekacau itu diriku. 

Aku ingin menujumu, berbagi canda denganmu di bawah langit semesta yang begitu indah, juga atas restu baik dari Tuhan.

Sabtu, 31 Januari 2026

Secangkir Tenang

 


Aku menulis ini di sore hari, sambil menyeruput kopi yang mulai mendingin. Suasananya tenang, langit tak terlalu terang dan tak sepenuhnya gelap—seperti pikiranku yang perlahan mencari kepastian. Ada banyak hal yang sempat membuat ragu, namun di sela-sela diam itu, aku belajar bahwa keyakinan tidak selalu datang dengan tergesa. Kadang ia hadir bersama jeda, bersama napas yang ditarik pelan, bersama sore yang sederhana.

Meyakinkan diri berarti berani duduk lebih lama dengan perasaan sendiri. Seperti menikmati kopi tanpa terburu-buru, aku mencoba memahami arah yang kupilih. Memilihmu bukan keputusan yang lahir dari emosi sesaat, tapi dari proses menimbang yang panjang, dari doa-doa yang diselipkan tanpa suara. Ada rasa tenang yang muncul, rasa yang tidak meledak-ledak, tapi cukup untuk membuatku bertahan.

Jika suatu hari keraguan kembali menyapa, aku ingin mengingat sore ini—tentang kopi yang kuteguk perlahan dan pikiran yang akhirnya jujur. Bahwa pilihan ini bukan tentang ingin terlihat yakin, melainkan tentang kesiapan menerima segala kemungkinan. Aku hanya sedang meyakinkan diri, dengan cara paling sederhana, bahwa langkah ini layak diperjuangkan.

Minggu, 25 Januari 2026

Tenang


Dunia ini sudah cukup ramai

Bukan berarti kita hadir untuk menambah kebisingan riuhnya suasana. Cukup menjadi wadah yang tenang menampung segala isi sereal hidup yang semakin beragam

Hai.., ada kalanya kamu memilih diam

Tidak perlu sekuat tenaga untuk membuktikan, kamu sudah cukup indah dan penuh makna. Mode heningmu sudah cukup tepat. Tidak semua harus dijelaskan dengan hingga terdengar.

Kecewa tetap akan datang bertamu. Tidak semua datang dengan sopannya, meski kita tidak bisa menutup pintu menyambut hadirnya dengan tiba-tiba. 

Hai.., tidak perlu berlari sejauh itu

Pada akhirnya menjadi tenang di tengah dunia yang ramai adalah pilihan yang berani. Tidak selalu harus menjelaskan, apalagi membuktikan. Kamu cukup bijak dan dewasa. Ada hal yang memang cukup baik untuk disimpan saja. Tidak semua harus diberikan panggung pertunjukan. Cukup rawatlah dengan tenang, pelan, dalam hening yang khusyuk.

Dimana damai kutemukan? Pada tengadah tangan yang penuh harap, pada gulitanya malam yang tenang, pada dinginya malam yang kulawan.

Sebab ada pinta dan curhat yang lebih didengar. Membelai dengan lembut penuh cinta. Saat malam aku merendah disaat suara dunia masih tertidur.



SAJAK DALAM DOA

Tidak apa-apa kan jika baru saat ini aku mengerti begitu baik rencana-Mu. Dulu banyak pintu yang tertutup, seakan aku merasa ini sungguh ket...